![]() |
| Roket Falcon Heavy milik perusahaan antariksa swasta SpaceX |
Di antara kedelapan planet anggota tata surya kita, hanya planet Mars yang menarik perhatian banyak ilmuwan di abad ke 21. Sudah banyak wahana yang dikirim oleh ilmuwan dari berbagai lembaga antariksa negara maupun swasta dari berbagai belahan dunia untuk tujuan penelitian. wahana tersebut adalah satelit dan rover, atau sejenis robot beroda yang berjalan di permukaan planet Mars.
NASA sebagai lembaga antariksa nasional milik Amerika Serikat adalah
yang paling banyak mengirimkan wahana ke planet Mars. Terhitung sejak tahun 1964 hingga 2013, NASA sudah mengirimkan 20 wahana ke planet Mars. Dan di tahun 2030-an, NASA akan mengirim astronotnya ke planet Mars.
Tidak ingin ketinggalan, beberapa badan antariksa, baik milik negara maupun swasta, juga turut menjadi kompetitor NASA dalam rencana misi mengirim manusia ke Mars, seperti ESA, SpaceX, dan Boeing.
di antara ke tiga badan antariksa tersebut, SpaceX adalah badan antariksa yang paling berambisi untuk mendaratkan manusia di planet Mars di tahun 2025. SpaceX adalah badan antariksa swasta yang juga berdomisili di Amerika Serikat. di bawah pimpinan Elon Musk, SpaceX merupakan badan antariksa yang paling inovatif dan visioner. setelah sukses menciptakan teknologi roket multiguna (reusable rocket) yang bisa mendarat kembali di permukaan bumi setelah diluncurkan ke ruang angkasa, visi SpaceX selanjutnya adalah membuat sistem transportasi antarplanet (interplanetary transport system), sebuah visi yang menggambarkan perjalanan transportasi manusia menggunakan roket layaknya sistem tranportasi pesawat terbang yang mengangkut penumpang dari satu kota ke kota lain.
Istilah space race bukanlah persaingan antar negara atau antar lembaga antariksa dalam hal siapa yang paling cepat dalam mendaratkan manusia di planet Mars atau siapa yang paling memiliki teknologi paling mutakhir, melainkan hanya untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan semata.
berikut video dari SpaceX mengenai visi sistem transportasi antarplanet.
SpaceX sendiri bukanlah saingan dari NASA, justru lembaga antariksa saling bekerjasama dalam mengembangkan teknologi di bidang keantariksaan. SpaceX bekerjasama dengan NASA dalam pengiriman misi astronot atau logistik ke Stasiun ruang Angkasa Internasional (ISS), begitu pula dengan lembaga antariksa lain seperti ROSCOSMOS milik Rusia, Canadian Space Agency (CSA) milik Kanada, European Space Agency milik Uni Eorpa dan masih banyak lagi kerjasama antar negara di bidang keantariksaan.
Namun sejumlah badan antariksa dunia sudah memiliki agenda masing-masing dalam menjalankan misi ke planet Mars tanpa melibatkan badan antariksa lain dengan maksud kemandirian dalam teknologi keantariksaan, seperti ESA yang sudah memiliki program EXXOMARS untuk misi mengirimkan robot ke planet Mars. Tiongkok, Jepang dan India juga memiliki agenda masing-masing dalam mengrimkan teknologinya ke planet Mars.
terlepas dari itu semua, umat manusia sebagai makhluk yang memiliki intelejensi tinggi sudah melangkah sangat jauh dalam mengembangkan teknologi keantariksaan demi tujuan ilmu pengetahuan.
NASA sebagai lembaga antariksa nasional milik Amerika Serikat adalah
yang paling banyak mengirimkan wahana ke planet Mars. Terhitung sejak tahun 1964 hingga 2013, NASA sudah mengirimkan 20 wahana ke planet Mars. Dan di tahun 2030-an, NASA akan mengirim astronotnya ke planet Mars.
Tidak ingin ketinggalan, beberapa badan antariksa, baik milik negara maupun swasta, juga turut menjadi kompetitor NASA dalam rencana misi mengirim manusia ke Mars, seperti ESA, SpaceX, dan Boeing.
di antara ke tiga badan antariksa tersebut, SpaceX adalah badan antariksa yang paling berambisi untuk mendaratkan manusia di planet Mars di tahun 2025. SpaceX adalah badan antariksa swasta yang juga berdomisili di Amerika Serikat. di bawah pimpinan Elon Musk, SpaceX merupakan badan antariksa yang paling inovatif dan visioner. setelah sukses menciptakan teknologi roket multiguna (reusable rocket) yang bisa mendarat kembali di permukaan bumi setelah diluncurkan ke ruang angkasa, visi SpaceX selanjutnya adalah membuat sistem transportasi antarplanet (interplanetary transport system), sebuah visi yang menggambarkan perjalanan transportasi manusia menggunakan roket layaknya sistem tranportasi pesawat terbang yang mengangkut penumpang dari satu kota ke kota lain.
Istilah space race bukanlah persaingan antar negara atau antar lembaga antariksa dalam hal siapa yang paling cepat dalam mendaratkan manusia di planet Mars atau siapa yang paling memiliki teknologi paling mutakhir, melainkan hanya untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan semata.
berikut video dari SpaceX mengenai visi sistem transportasi antarplanet.
Namun sejumlah badan antariksa dunia sudah memiliki agenda masing-masing dalam menjalankan misi ke planet Mars tanpa melibatkan badan antariksa lain dengan maksud kemandirian dalam teknologi keantariksaan, seperti ESA yang sudah memiliki program EXXOMARS untuk misi mengirimkan robot ke planet Mars. Tiongkok, Jepang dan India juga memiliki agenda masing-masing dalam mengrimkan teknologinya ke planet Mars.
terlepas dari itu semua, umat manusia sebagai makhluk yang memiliki intelejensi tinggi sudah melangkah sangat jauh dalam mengembangkan teknologi keantariksaan demi tujuan ilmu pengetahuan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar